Diceritakan di sebuah perkampungan di pinggiran hutan,hiduplah keluarga pencari kayu bakar bertetangga dengan keluarga yang seprofesi dengannya.
Suatu hari si suami kesal kàpak satu-satunya miliknya tak ada di tempatnya.Ia menggerutu lantas berpikir pastilah di ambil tetangganya itu,karena sebelumnya bahwa tetangganya itu pernah memuji kapak miliknya itu bagus dan sangat tajam.Oleh karena keinginannya pasti dia yang mengambilnya.
Tatkala tetangga itu berangkat lalu menyapanya dg penuh semangat dan senyuman,pastilah dia mengambilnya dilihat dari cara menyapa dan gerak geriknya (pikirnya).
Setelah sore hari tetangga itu pulang dengan hasil sangat banyak ,lalu diperhatikan lagi :"itu pasti kapakku yang dipakai,tidak biasanya hasil segitu banyaknya" gumamnya semakin yakin.
Tidak lama istrinya pulang dari pasar jualan kayu bakar,"lumayan banyak hasil jualanku hari ini ,"sapa istrinya pada si suami."Oh iya ,,kapaknya ku simpan di gudang belakang,tadi terjatuh takutnya melukai kaki jadi kusimpan"lanjut sapanya.
Si suami tertegun dan gugup menjawab:"i..ii...iyaa".jawabnya singkat.
Keesokan harinya tetangganya berangkat dan menyapa lagi seperti biasanya.Di perhatikan tidak ada yang aneh pada sikapnya hanya dia memang bersemangat.
Dan hasil yang di dapat tetangganya biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa,oleh karena belenggu pikiran kita menjadikan persepsi pada orang lain buruk.
Suatu hari si suami kesal kàpak satu-satunya miliknya tak ada di tempatnya.Ia menggerutu lantas berpikir pastilah di ambil tetangganya itu,karena sebelumnya bahwa tetangganya itu pernah memuji kapak miliknya itu bagus dan sangat tajam.Oleh karena keinginannya pasti dia yang mengambilnya.
Tatkala tetangga itu berangkat lalu menyapanya dg penuh semangat dan senyuman,pastilah dia mengambilnya dilihat dari cara menyapa dan gerak geriknya (pikirnya).
Setelah sore hari tetangga itu pulang dengan hasil sangat banyak ,lalu diperhatikan lagi :"itu pasti kapakku yang dipakai,tidak biasanya hasil segitu banyaknya" gumamnya semakin yakin.
Tidak lama istrinya pulang dari pasar jualan kayu bakar,"lumayan banyak hasil jualanku hari ini ,"sapa istrinya pada si suami."Oh iya ,,kapaknya ku simpan di gudang belakang,tadi terjatuh takutnya melukai kaki jadi kusimpan"lanjut sapanya.
Si suami tertegun dan gugup menjawab:"i..ii...iyaa".jawabnya singkat.
Keesokan harinya tetangganya berangkat dan menyapa lagi seperti biasanya.Di perhatikan tidak ada yang aneh pada sikapnya hanya dia memang bersemangat.
Dan hasil yang di dapat tetangganya biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa,oleh karena belenggu pikiran kita menjadikan persepsi pada orang lain buruk.